Fenomena Cinta Dalam Diam
Cinta adalah sebuah hakikat yang tak satupun
bisa mendefinisikannya dengan sempurna. Karena, masing-masing memiliki rasa
yang bergradasi dan berbeda-beda. Satu definisi tak mungkin bisa mewakili hakikat
yang tinggi dari cinta itu sendiri. Mungkin, untuk sebagian orang akan
mengetahui dan menyadari dengan sendirinya bahwa ‘virus cinta’ telah menjalar
serta merasuk pada dirinya. Yang
akhirnya dari virus tersebutlah berbagai fenomena bermunculan, baik positive
maupun negative. Yang kadang pula menjadi
sumbangsih besar dalam memberikan pengaruh pada aspek sosial maupun agama dalam
kehidupan.
Sebagai contoh, Cinta yang awalnya suci
yang berfungsi sebagai perangkat manusia untuk menyempurna, kini banyak yang
menyalahgunakan sebuah kata atas nama cinta, yaitu hanya dengan ungkapan “Aku
cinta Kamu.” kata yang dimana seharusnya sesuatu yang sakral dan murni, malah
menjadi tiket untuk masuk ke dunia yang merusak moral anak bangsa. Diawali dari
penyalah gunaan kata, sehingga munculnya
prostitusi, LGBT dan Fenomena lainnya yang merusak tatanan negara berasaskan pancasila.
Mungkin jika ditinjau dari
fenomena-fenomena tersebut, memang sulit untuk menahan perasaan yang sebenarnya
sangat mudah untuk diungkapkan. Tapi bagi seseorang yang ingin sukses dalam hal
cinta, bukanlah menjadi tantangan, jika kita mengaplikasikan sebuah perasaan
kedalam lafaz (Kata) yang lumrah dan mudah untuk semua orang lakukan. Seperti yang diungkapkan oleh Ustad Akbar
Shaleh dalam pelajaran mantiq dengan tema ‘ Perpindahan Dari Makna Ke Lafadz’
bahwa “Jagalah kesucian dari hakikat
cinta yang tinggi, dengan tidak menjadikan sebuah lafaz yang terbatas, mewakili
dan menampung seluruh dari makna sebuah cinta. Sebenarnya, hal itulah yang akan membuat hakikat cinta itu tidak dianggap
tinggi lagi, karena lafaz telah
membatasi makna dari cinta yang hanya dengan ungkapan singkat “Aku cinta kamu”.
Jadi, bersyukurlah bagi seseorang yang masih menjaga hakikat cinta yang tinggi
itu dengan selain lafaz .” begitulah kurang lebih ungkapan Ustad Akbar yang
sangat menarik dan cocok jika kita sandingkan dengan konteks kali ini.
Kenapa
sebelum menikah, kita tak bisa mengungkapkan perasaan dengan lafaz? Karena, dimulai dari sebuah lafazlah akan menimbulkan
berbagai kejadian-kejadian yang menjadi penyimpangan agama maupun sosial,
seperti yang disebutkan tadi. Maka dari itu, berdo’a dan berharap pada sang
Pemilik Cinta, mungkin akan menjadi peringkat nomor satu dalam istilah ‘Cinta
Sejati’. Tak hanya itu, berbagai cara untuk membuktikan bahwa kita mencintai
seseorang mungkin bisa dilakukan dengan membuktikan bahwa kita bisa
mengaktualisasikan semua bakat yang kita miliki. Mungkin, salah satunya dengan
membuat karya seni yang hebat dalam bidang musik, puisi,gambar-gambar animasi,
karya tulis dan lain lain yang akan bermanfaat bagi dirinya ataupun sekitarnya.
Bahkan mungkin, dengan hal itu Sang Pemilik Cinta tak akan pernah membiarkan
usaha seorang hambanya akan mencapai hasil ‘kecewa’. Maka dari itu, selalu
berusaha memperbaiki diri, mengaktualisasikan potensi, berdoa, dan diam,
mungkin akan menjaga kesucian cinta yang agung, dan tak terbatas.Sehakikat cinta. Semoga kita bisa bersatu dengan dia yang kita sebut dalam doa dan dia yang kita cintai pun dapaperti kisah
cinta Sayyidah Fathimah dan Ali Bin Abi Thalib yang tertandingi kesuciannya
dalam menjaga t mengetahui akan rasa yang
kita miliki ini.!! Semangatttttt!!!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar